Apa Itu Grouping dan Center-to-Center?

Apa Itu Grouping dan Center-to-Center?

Postingan yang saya bagikan pada kesempatan kali ini merupakan sari pembelajaran dari beberapa situs dan forum tentang metode perhitungan grouping mimis. Saya pribadi merasa penting sekali dalam mempelajari metoda ukur grouping untuk dapat memberikan pemahaman dengan benar, hasil yang terpercaya, dan pada akhirnya keseragaman persepsi tentang istilah center-to-center.

Bagaimana akurasi menembak dinilai?

Pertanyaan seperti ini dulu pernah ada di benak pikiran saya ketika saya mulai mencoba hobi menembak. Sebelumnya, perlu Anda ketahui bahwa saya pribadi merupakan penikmat suguhan video yang ada di youtube.

 Sasaran target yang bisa dibilang cukup jauh dan kecil bisa ditembak dengan sangat mudah dan secara tepat hanya dengan satu kali bidikan saja. Pada awalnya saya memang sangat  terkesan dengan kemampuan mumpuni yang dimiliki oleh para penembak yang ada di video youtube yang telah saya lihat tersebut.

Apa Itu Grouping dan Center-to-Center?

Saya pun mulai belajar secara perlahan agar bisa mendapatkan hasil yang sama, berbekal dengan senapan yang saya miliki. Banyak sekali mimis dan waktu yang saya habiskan untuk bisa mendapatkan hasil yang sama dengan para penembak tersebut. Namun yang menjadi masalah, apakah saya sudah mengalami peningkatan? Apakah ada indikator yang bisa dipercaya untuk peningkatan akurasi dalam menembak?

Sesudah saya pelajari ternyata ada sebuah metoda ukur untuk dapat menggambarkan sebuah akurasi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa akurasi menembak akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Beberapa faktor tersebut adalah senapan yang digunakan (machine), faktor penembak (man and method) dan juga lingkungan dalam menembak (media).

Perpaduan dari semua faktor tersebut nantinya akan menghasilkan suatu akurasi yang tidak sama. Untuk dapat mengukur akurasi seringkali dilakukan hingga beberapa tembakan dengan faktor yang telah terkendali kepada suatu target yang sama.

Untuk jumlah proyektil yang biasanya ditembakkan untuk pengukuran tersebut adalah sekitar 5 hingga 10 kali. Sedangkan sasaran yang umumnya diguanakan yaitu kertas target.

Proyektil yang sudah mengenai sasaran target akan membentuk suatu kelompok atau grouping dan untuk ukuran grup ini bisa diukur besarnya. Ukuran grup ini bisa menunjukkan tingkat akurasi tembakan, atau dengan kata lain jika semakin kecil group tersebut maka tembakannya akan dianggap semakin akurat.

Grouping sebuah tembakan pada umumnya akan ditentukan dengan jarak dari dua lubang paling jauh yang telah dibuat proyektil pada kertas sasaran. Jarak tersebut seakan-akan membentuk suatu area bndar dengan jarak paling jauh yang dikur tersebut berperan sebagai diameter lingkarannya.

Gambar 1. 5-shot-group. Untuk dapat menentukan diameter group, tentukan dulu 2 lubang paling jauh dari group (berwarna merah). Diameter center-to-center ditandai dengan garis hitam (dimana menunjukkan jarak dari kedua pusat proyektil yang paling jauh).

Bagaimana Cara Mengukur Diameter Grup?

Dalam mengukur diameter grup ada sebuah istilah yang disebut center to center. Mengapa hal tersebut penting? Permasalahannya yaitu kaliber senapan sangatlah bervariasi. Selain ukuran kaliber peluru 4.5 mm, senapan angin juga mempunyai kaliber 5,0, 5,5 mm, dan ada juga yang lebih dari itu.

Untuk kaliber senapan api bahkan bisa jauh lebih besar. Semua itu membutuhkan bahasa dan nilai yang sama untuk dapat menggambarkan akurasinya. Sehingga digunakan pengukuran langsung dari pusat proyektil untuk menuju pusat proyektil lainnya, ukuran kaliber proyektil pun tidak akan mengalami masalah dalam menunjukkan akuarasi tembakanna meskipun pada Senapan Angin PCP.

Bisa Anda bayangkan apabila diameter grouping diukur dengan menggunakan jarak paling luar dari bagian lubang proyektil pada kertas sasaran, pastinya proyektil dengan ukuran paling kecil akan mempunyai keunggulan karena diameter pelurunya yang jauh lebih kecil.

Demikian pula sebaliknya, jika jarak paling pendek yang digunakan maka akan sangat menguntungkan proyektil berkaliber lebih besar. Agar lebih jelas, Anda bisa perhatikan ilustrasi berikut ini.

Gambar 2. Ilustrasi dari Efek Perbedaan Kaliber Proyektil. Pada grouping yang sangat identik, panjang diameter paling jauh dari kaliber proyektil yang jauh lebih besar (A) akan selalu lebih panjang dibandingkan dengan kaliber yang lebih kecil (B). Darisinilah pentingnya pengukuran jarak berdasarkan pada diameter center-to-center.

Pada umumnya dalam pengukuran grouping ini dilakukan dengan menggunakan jangka sorong atau caliper. Untuk pembacaan yang lebih detail dan mudah, bisa juga dengan menggunakan jangka sorong digital. Penggaris berskala biasa juga bisa Anda gunakan. Kertas sasaran berkualitas juga direkomendasikan untuk masalah yang satu ini.

Namun membeli kertas yang hanya digunakan untuk ditembaki saja bisa dibilang sangat boros. Tetapi yang pasti ada alasan mengapa masih ada yang memproduksi kertas target sasaran ini dan mengapa event-event yang resmi selalu menggunakannya. Kalau saya pribadi sudah sangat puas dengan kertas karton manila yang biasa dicetak dengan printer.

Gambar 3. Memanfaatkan Kertas HVS 80 gms Sebagai Sasaran. Bisa dilakukan, tetapi sangat sulit mendapat batas yang tegas. Meskipun sudah menggunakan mimis berhidung wadcutter.

Untuk dapat mengukur diameter center to center, hasil dari pencarian yang saya lakukan, ternyata ada beberapa metoda. Sudah saya rangkum dengan jelas melalui penjelasan berikut ini. Berdasarkan dari alat bantu yang dipakai maka metoda perhitungan dibagi menjadi:

  1. Metoda Langsung atau Direct Measurement

Pada metoda langsung, kertas target nantinya diukur secara langsung menggunakan sebuah alat pengukur yaitu jangka sorong. Sederhana, murah, dan sangat mudah untuk dikerjakan. Terkadang juga tergantung dari bentuk grouping yang akan diukur, metoda ini sangat sulit untuk mendapatkan hasil yang dapat dipercaya. Khusunya pada grouping yang cukup rapat sehingga akan bertumpuk.

Gambar 4. Grouping yang sangat Rapat dan Bertumpuk. Bagaimana cara untuk mengukur ukuran group yang seperti ini?
  • Metoda Tidak Langsung atau Assisted Measurement

Pada metoda ini biasa digunakan alat bantu. Menggunakan alat bantu ini pastinya bisa mengetasi berbagai masalah grouping yang sangat bertumpuk, dimana batas antara lubang tembakan sangat tidak jelas.

Beberapa yang saya peroleh seperti memakai gulungan kertas berputar yang akan merekam semua tembakan pada belakang sasaran utama sehingga akan diperoleh ukuran lubang secara individual. Ada pula yang memakai lempeng bundar yang memiliki ukuran standar sesuai dengan kaliber proyektil yang akan detembakkan untuk dapat mempertegas batas bekas tembakan. Metoda ini umumnya digunakan pada event-event yang resmi.

Untuk metoda langsung terbagi menjadi beberapa macam cara pengukuran, yakni (dimana istilah bakunya tidak ada dan hanya istilah dari karangan saya sendiri):

  1. Metoda perkiraan pusat

Bagian ujung penggaris berskala atau jangka sorong diletakkan pada pusat lubang menggunakan cara kira-kira. Cara yang satu ini tidak bisa dipercaya sepenuhnya karena perkiraan pusat setiap orang sudah pasti berbeda. Terlebih lagi jika grouping bertumpuk untuk membentuk satu lubang yang besar.

Gambar 5. Memperkirakan Pusat Lubang. Bagaimana jika skala pengukur jauh lebih kecil? Di mana Anda dapat menentukan pusat lubangnya?       b. Diameter maksimal group dikurangi dengan kaliber peluru   Ukur diameter paling luar lubang termasuk pula kertas yang ada warna abu-abunya akibat terkena peluru namun tidak robek ataupun berlubang. Hasil pengukuran tersebut kemudian dikurangi dengan kaliber peluru dalam satuan yang sama (contohnya : skala yang digunakan dalam milimeter maka kaliber peluru yang digunakan juga dalam skala milimeter). Kelemahan yang dimiliki oleh metoda ini adalah jika menggunkan profil hidung peluru selain wadcutter, maka kertas tidak akan terlubangi secara sempurna sehingga ukuran lubang bisa jauh lebih kecil jika dibandingkan ukuran peluru  yang ditembakkan.   Atau pada sebuah grup dimana keliber pelurunya masih belum diketahui maka akan sangat sulit untuk mengetahui angka pengurangannya. Namun hal seperti ini bisa diakli dengan cara mengukur diameter lubang secara individual. Ukuran diameter lubang itulah yang nantinya akan digunakan sebagai faktor pengurang dalam menggantikan ukuran kaliber peluru. Tetapi kekurangannya adalah pada grouping yang sangat bertumpuk sehingga hal ini sangat sulit untuk dilakukan. Gambar 6. Menentukan Diameter Paling Maksimal dari Lubang Proyektil (X).   Gambar 7. Alternatif Pemecahan Masalah pada Grouping Rapat  yang Kaliber Proyektilnya Masih Belum Diketahui. Ukur angka acuan diameter lubang tumbukan proyektil (y). Angka tersebut nantinya akan menggantikan angka kaliber mimis. Nilai diameter maksimal x dikurangi  dengan nilai y merupakan nilai diameter center-to-center.   c. Diamater maksimal group ditambah dengan diameter minimal terluar grup kemudian dibagi dua   Cara yang satu ini bisa dibilang cukup adil dan mampu untuk mengatasi berbagai masalah pada  ukuran lubang apapun profil hidung peluru yang digunakan. Namun yang menjadi masalah adalah pada grouping yang bertumpuk tidak dapat dipecahkan. Gambar 8. Diameter Paling Maksimal Group (x) Dikurangi Diameter Minimal Terluar Group (y). Pada grouping yang sangat rapat dan bertumpuk akan sangat sulit untuk menentukan nilai y.     d. Jarak margin terluar ke margin dalam lubang terluar   Sama dengan cara sebelumnya, metoda ini juga adil dan mampu untuk menyelesaikan berbagai masalah ukuran lubang  apapun profil hidung peluru yang digunakan. Permasalahan mengenai grouping yang sangat bertumpuk juga sangat sulit untuk diatasi pada metoda ini. Gambar 9. Ilustrasi dari Jarak Margin Terluar ke Margin Dalam Lubang Paling Luar (X).
    Kesimpulan  

Group Shot bisa dikatakan merupakan bahasa universal untuk dapat mengetahui akurasi tembakan proyektil pada sebuah bidang target. Grouping yang terukur akan memberikan informasi yang bisa dimengerti oleh semua orang.

Sangat dibutuhkan sebuah pemahaman dan juga metoda perhitungan diameter grouping yang rasional dan bisa dipercaya untuk dapat menyatakan tingkat akurasi suatu tembakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *